Mei 01, 2014

BEM FK UMS Kirimkan Delegasi Sekolah Kastrad

Suasana saat berlangsungnya acara

Pada hari Minggu (27/4) Departemen Kastrad BEM FK UMS mengirimkan 3 delegasi yaitu Dhanista HSP (selaku Mentri Departemen Kastrad), Miftahul I’nam dan Alsy Setaifadi dalam acara sekolah kastrad ini. Acara yang diselenggarakan oleh Departeman Advokasi BEM FK UNS ini berlangsung meriah di Ruang Sidang 3 Kampus Kentingan. Sekolah kastrad ini merupakan agenda rutin yang dijalankan setiap tahun. Pada tahun kedua ini jumlah peserta mencapai 30 an, meliputi perwakilan dari BEM FK UNS, Dewan Mahasiswa FK UNS, beberapa HMP FK UNS serta tidak ketinggalan juga Kastrad  BEM FK UMS.
             Acara sekolah kastrad ini  berlangsung dua hari (Sabtu-Minggu), dimulai pukul 07.30 dan dibuka langsung oleh Ketua Panitia yaitu Sheilla Fajrien. Pada acara ini, Departemen Kastrad BEM FK UMS merupakan satu-satunya organisasi yang hadir diluar Institusi UNS. Para peserta delegasi dari BEM FK UMS sangat antusias untuk mendalami dunia advokasi. Sesuai dengan jargonya “penggores tinta perubahan”, acara ini bertujuan untuk mendorong mahasiswa sebagai agen of change dan memotivasi untuk menjadi subjek penentu kebijakan.
Banyak pemateri hebat yang mengisi acara ini, yaitu ketua FULDFK Muhammad Haydar. Mas Edo panggilan akrabnya menyampaikan materi yang luar biasa mengenai cara mempengaruhi opini publik. Selain itu ada materi dari Gubernur BEM FK Unsoed yaitu  Lutfi Maulana yang menyinggung tentang UKT (Uang Kuliah Tunggal) di Perguruan Tinggi Negri.

Sebuah kebanggaan baru bagi Departeman Kastrad BEM FK Kedokteran UMS yang telah melebarkan sayapnya dengan berpartisipasi dalam acara ini, mengingat baru 2 tahun terjun didunia organisasi. Semoga proker Departeman ini lebih nyata dirasakan oleh mahasiswa FK UMS tentunya. Sehingga terwujudnya mahasiswa yang berfikir kritis dalam menanggapi perubahan yang ada. Hidup mahasiswa.

Berita oleh : Dhanista Hastinata

Sistim pengumuman nilai dan tekanan psikis

Doc. Google.com

Sebenarnya sudah lama catatan ini saya buat, namun harus saya revisi berulangkali untuk mendapatkan bahasa yang bagus dan sesuai agar enak dibaca dan memberi pengertian yang komprehensif. Ini setelah saya sampaikan kepada teman-teman se-kontrakan dalam bentuk aspirasi. Begini ceritanya, seharusnya hasil nilai-nilai ujian kita selama 1 semester itu tidak perlu dipajang di papan mading atau di umumkan kepada khalayak, cukup pribadi masing-masing yang tahu. Yakni saat KRS-an, atau dengan sistem online, log-in nilai, atau dalam bentuk amplop, mengingat banyak hasil yang kurang memuaskan atau bahkan anjlok. Tujuan utamanya adalah untuk mengurangi tekanan psikis mahasiswa yang nilainya anjlok.

Saat jajak pendapat seperti ini, antisipasi bahwa pasti ada pihak yang kurang setuju itu akan ada. Dan akhirnya memang ada. Mereka yang kurang setuju menganggap, hal tersebut akan mengurangi semangat belajar. Semangat belajar mereka akan berkurang karena tidak ada komparasi atau pembanding, tidak terpacu untuk bangkit, semangat belajar jadi menurun. Intinya, semuanya jadi menurun karena tidak adanya daya saing. Begitulah kenyataannya, sistem pendidikan modern mengajarkan kita untuk selalu bersaing dalam hal prestasi akademik. Pendidikan selalu menjadi ajang kempetisi, bukan sekedar wawasan.

Adalah wajar jika mereka tidak setuju, mereka menganggap; itu sih tergantung orangnya mau bangkit atau tidak. Alasan lain selain tergantung orangnya juga tergantung siapa pembimbing akademiknya (PA), lingkungan belajarnya, dan masih banyak lagi tanpa harus menghilangkan sistem pengumuman nilai yang memang sudah ada sejak dulu. Mari kita tampung pendapat itu, dan boleh jadi memang ada benarnya. Namun kita juga tidak boleh melupakan pendapat yang berseberangan walau mungkin nilai positifnya hanya satu, hanya mengurangi tekanan psikis, tapi cukup memberi pengaruh besar untuk masa depan banyak mahasiswa.

Secara psikis, mungkin bagi yang nilainya sudah tinggi itu tidak menjadi masalah. Bahkan hal tersebut semakin menguatkan kepercayaan diri untuk meraih nilai yang lebih tinggi lagi. Tapi bagi mereka yang nilainya berada di papan bawah, akan membuatnya sulit untuk bangkit, sulit untuk keluar dari lubang hitam. Memang tidak semuanya seperti itu, ada juga beberapa yang bisa bangkit lagi justru setelah melihat pengumuman tersebut. Namun kalau kita persentase-kan lagi, berdasarkan kenyataan yang ada, jelas lebih banyak lagi yang susah untuk bangkit. Apakah kita akan menyalahkan mereka karena tergantung orangnya lagi? Karena malas? Jelas boleh, bahkan sangat boleh (walau belum tentu semuanya demikian). Tapi hal tersebut bukanlah sebuah solusi, karena hanya sekedar motivasi. Mereka tetap tidak terhindar dari tekanan psikis bahwa mereka dalam hal akademi kampus termasuk kalangan bawah. Dan ini, jika dibiarkan terus-menerus, akan semakin berdampak pada kemampuan akademis mereka selanjutnya.

Sebagai contoh di lapangan, cobalah lihat teman-teman kita yang nilainya jelek, lantas dia mencoba bangkit dan memperbaiki diri. Namun karena image IP-nya yang sudah terlanjur rendah, atau ditambah lagi bocahnya juga memang sedikit bandel, akhirnya dia hanya akan jadi bahan ledekan alias di-bully oleh teman-teman sekelas. Cobalah perhatikan ketika dia bertanya di kelas kepada dosen saat kuliah, tidak sedikit teman-teman sekelas akan menertawakannya, atau dengan senyum seperti ini; “Weee..”. Saya juga ikut tertawa, bahkan saat kembali ke rumah dan mengingat kembali yang sudah terjadi, kadang membuat saya tertawa sendiri. Begitulah kehidupan sosial di lingkungan kelas pada umumnya (walau tidak seluruhnya), dan kita tidak bisa menghindari hal tersebut. Akhirnya, kuliah selalu tidak efektif karena mahasiswa banyak yang kurang paham, namun malu untuk bertanya alias tidak pe-de. Walaupun tidak semuanya seperti itu, namun seperti itulah pada umumnya. Padahal, kalau saja boleh jujur, saya yakin ada banyak sekali pertanyaan dalam benak setiap mahasiswa.

Sekali lagi, kita boleh saja berpendapat lain, tapi pendapat itu kadang justru hanya berlaku untuk diri kita sendiri, tanpa peduli dengan kenyataan sosial bahwa pendapat tersebut tidak terealisasi secara mayoritas. Lantas apakah kita akan menyatakan pernyataan yang sama lagi? Tergantung orangnya. Saya rasa kita tidak akan pernah benar-benar memberi solusi kecuali hanya terus menyalahkan dengan kesalahan yang sama.
Jadi, kembali lagi ke pembahasan awal tadi, alangkah baiknya jika nilai itu dijadikan saja dalam bentuk privasi. Bukan karena saya pernah punya nilai rendah. Bahkan nilai tinggi-pun tidak akan merubah prinsip saya seperti ini. Ini karena kenyataan bahwa di luar sana ada banyak sekali mahasiswa yang mungkin sejak SD sudah mendapat banyak sekali tekanan oleh karena banyaknya ujian yang harus mereka hadapi dengan standar bakunya berdasar nilai-nilai akademis yang sungguh membuat banyak anak keteteran. Kita perlu menyerukan bersama kenapa bisa demikian, dan itu, tidak cukup hanya dengan satu orang. Dulu, di kampus sempat ada audiensi bersama dekanat, salahsatunya membahas masalah kurikulum pendidikan. Sebenarnya ingin sekali menyampaikan pendapat ini, tapi ada yang menurut saya kurang pas jika saya yang menyampaikan. Mungkin hal ini akan lebih mantap jika disampaikan oleh teman-teman yang secara akademik masuk dalam kategori mahasiswa cum-laude. Kenapa? Ini untuk mengantisipasi feed back  seperti ini; Nilaimu kan anjlok, jadi wajar kalau kamu salahsatunya yang pengen sistem pengumuman seperti itu. :)

Hahaha, bukan. Bukan karena itu. Prestasi yang sudah saya dapatkan sejak di bangku dasar sampai menengah tidak mengajarkan saya seperti itu. Bukankah, kita belajar bukan hanya untuk nilai, tapi untuk kehidupan? Dan yang terakhir, saya hanya akan berdoa, semoga dengan diberlakukan sistem seperti ini, justru akan semakin membangkitkan motivasi mahasiswa di kampus mana-pun mereka berada untuk justru semakin terpacu menjadi lebih baik dalam hal belajar (baik itu adalah baik dalam akademik, maupun dalam attitude)Sehingga, tidak ada lagi kita dapatkan hal ironis; mahasiswa yang justru membenci jurusannya, yang pada akhirnya kelak, membuatnya benci dengan pekerjaannya.
Salam menuntut ilmu demi kehidupan.


Surakarta, 12 Februari 2013

April 30, 2014

SI KECIL YANG BERDAMPAK HEBAT!

Doc. Google.com

Banyak hal yang kadang tidak terduga oleh kebanyakan orang, jika sesuatu yang kecil bisa berdampak besar. Perkenalkan si kecil yang dimaksud adalah nyamuk. Penyakit apa saja yang dapat ditimbulkan dari gigitan/tusukan nyamuk ini? Seberapa besar dampaknya? Sebenarnya, besar ataupun kecilnya dampak ditentukan oleh seberapa cepat penyakit tersebut mendapatkan penanganan. Penyakit primadona yang disebabkan oleh si kecil ini adalah Malaria dan DBD. Selama ini yang banyak diketahui masyarakat pada umumnya, penyakit ini hanya disebabnya oleh nyamuk. Apakah benar hanya nyamuk saja? Mari kita bahas bersama-sama.
Sebenarnya malaria disebabkan oleh parasit (seperti cacing) dari genus Plasmodium yang termasuk pada golongan protozoa. Sampai sekarang, penyakit ini masih merupakan salah satu masalah kesehatan pada masyarakat dunia, penyebaran atau epidemiologinya di berbagai Negara, terutama kawasan Asia, Afrika dan Amerika latin (khususnya yang kawasan endemik). Penyakit ini dapat menyebabkan kematian, dengan kelompok risiko tinggi yaitu pada bayi, anak balita, dan ibu hamil.
Setelah mengenal sekilas dengan penyakitnya, lantas agen-agen dari penyakit ini siapa saja? Ada 4 agen utama penyebab penyakit ini, yakni plasmodium Falciparum, plasmodium Vivax, plasmodium Malariae, dan Plasmodium Ovale. Terdapat berbagai cara penularan penyakit malaria, yakni dengan penularan secara alamiah dan bawaan. Penularan alamiah diperankan oleh gigitan langsung dari nyamuk anopheles, sedangkan penularan bawaan (congenital) itu terjadi akibat diturunkan dari orang tua, seperti pada bayi yang baru dilahirkan dari ibu yang terkena malaria, penularannya kadang melalui plasenta atau melalui transfusi darah. Gejala klinis yang ditimbulkan juga bisa bermacam-macam seperti badan terasa lemas, pucat karena anemia, nafsu makan menurun, mual-mual (kadang disertai muntah), serta sakit kepala yang terus menerus. Pada keadaan kronis bisa disertai pembesaran limpa. Terdapat tiga stadium klasik dari malaria atau yang kita kenal dengan istilah trias malaria, yakni stadium dingin à stadium demam à stadium berkeringat.
1.      Pertama stadium dingin, dimana penderita merasakan dingin dan mulai menggigil, nadi terasa cepat tapi lemah, kulit kering dan pucat. Stadium ini berlangsung antara 15 menit 1 jam.

2.      Kedua stadium demam, dimana penderita merasakan kepanasan, muka memerah, kulit kering, sakit kepala yang menjadi-jadi, kadang disertai muntah, suhu badan bisa mencapai 41oC atau lebih, stadium ini disebabkan oleh pecahnya schizon darah yang telah matang dan merozoit masuk dalam aliran darah, ini berlangsung antara 2-4 jam.

3.      Kemudian stadium terakhir yakni stadium berkeringat. Pada stadium ini penderita akan berkeringat banyak, suhu badan bisa meningkat, dan penderita dapat tidur dengan nyenyak. stadium ini berlangsung antara 2 sampai 4 jam.
Gejala-gejala yang disebutkan diatas tidak selalu sama pada setiap penderita, tergantung pada species parasit dan umur dari penderita, gejala klinis yang berat biasanya terjadi pada malaria tropika yang disebabkan oleh plasmodium falciparum. Hal ini disebabkan oleh adanya kecenderungan parasit (bentuk trofosoit dan scizon) berkumpul pada pembuluh darah organ tubuh seperti otak, hati dan ginjal sehingga menyebabkan tersumbatnya pembuluh darah pada organ-organ tubuh tersebut.
Untuk pencegahan dari penyakit malaria yang pertama adalah proteksi pribadi, seseorang seharusnya menghindari dari gigtan nyamuk dengan menggunakan pakaian lengkap, tidur menggunakan kelambu, dan menghindari untuk mengunjungi lokasi yang rawan malaria. Kedua, edukasi adalah faktor terpenting pencegahan malaria yang harus diberikan kepada setiap pelancong atau petugas yang akan bekerja didaerah endemis, serta modifikasi perilaku berupa mengurangi aktivitas di luar rumah mulai senja sampai subuh disaat nyamuk anopheles umumnya mengigit. Adapun tindakan pencegahan yang dapat dilakukan untuk adalah mengendalikan vector, misalnya dengan mengeringkan genangan air yang menjadi sarang nyamuk. Termasuk dalam pengendalian ini adalah mengurangi kontak nyamuk dengan manusia, misalnya memberi kawat nyamuk pada jendela dan jalan angin lainnya.
Semoga dari sedikit informasi yang telah dipaparkan di atas, kita semua bisa mencegah (preventif) mulai dari hal kecil yang ada pada diri kita maupun pada lingkungan sekitar.

By; Chintya Nur Faizah


April 29, 2014

TBM FK UMS Share blood share life


Salah seorang pendonor darah
dalam acara TBM Gyrus
        Tim Bantuan Medis atau yang lebih akrab dikenal dengan TBM, adalah salah satu unit kegiatan mahasiswa (UKM) yang ada di Fakultas Kedokteran UMS. UKM yang sifatnya cepat tanggap dalam penanganan darurat ini, hari senin (28/04/14) di lantai 1 ruang poliknik FK UMS, mengadakan acara yang bakti sosial donor darah. Kegiatan yang berlangsung dari jam 8 pagi sampai jam 12 siang ini berhasil mengumpulkan 30 kantong darah. “Sebenarnya masih banyak peserta yang terdaftar tapi tidak bisa ikut mendonorkan darah, hal ini karena kantong darah yang kebetulan terbatas hari itu. Ada sekitar 16 orang yang terpaksa tidak jadi mendonorkan darahnya.” Demikian menurut ketua TBM, Reza Gusni Saputra.

Ini merupakan kegiatan donor darah pertama yang diadakan oleh TBM Gyrus FK UMS yang bekerjasama dengan PMI Surakarta. Rencananya mereka akan mengadakan kegiatan donor darah setiap 3 bulan sekali. Otomatis selama 1 periode kepengurusan ada sebanyak 4 kali kegiatan donor darah. Selanjutnya akan dilaksanakan sekitar bulan Agustus, sedikit mundur dari jadwal yang ditetapkan mengingat bulan Juli mahasiswa libur akademik. Untuk mengantisipasi banyaknya para pendonor yang akan mendonorkan darahnya, kedepan dari pihak PMI akan mengusahakan untuk menyediakan kantung darah lebih banyak lagi, sekitar 100 kantung.

Harapan dari teman-teman TBM, semoga dengan diadakannya kegiatan donor darah ini, dapat meningkatkan kepedulian kita kepada sesama. Ada banyak masyarakat di luar sana yang membutuhkan pertolongan kita, sedikit saja darah yang kita sumbangkan sangat membantu kehidupan mereka. Juga masukan dari peserta donor yang tidak sempat mendonorkan darahnya karena kantung yang sudah habis agar panitia lebih cepat tanggas, sejak acara dimulai untuk mengumumkan jatah kantung yang tersedia agar tidak membatalkan peserta yang sudah terlanjur mendaftar.

Kalau melihat antusias mahasiswa, khususnya mahasiswa FK, tidak sedikit dari mereka yang ingin mendonorkan darahnya, mungkin ini bisa menjadi tempat untuk melatih keterampilan skill mereka dengan melihat bagaimana petugas PMI memasukkan jarum untuk mengambil darah melalui intra vena. Ada yang unik ketika mereka menemukan pendonor yang daranya merupakan resus negatif (-). Ini merupakan resus minoritas alias resus yang langka, sehingga saat seseorang kekurangan darah, mereka harus mencari golongan darah yang sama dengan resus yang sama pula. Namun demikian bagi para calon praktisi medis, kegiatan ini tidak semata untuk meningkatkan kepedulian sosial, tapi juga menambah wawasan buat mereka untuk memahami prosedur tranfusi darah. Seiring dengan perkembangan zaman, tranfusi darah tidak semata hanya karena golongan darah yang sama, tapi lebih spesifik lagi harus melihat resusnya. Sehingga, istilah yang dulu (mungkin) pernah kita dengar, ada donor universal dan resipien universal itu sudah tidak berlaku lagi.


Berita Oleh : Iwan Mariono

Bulan Bakti BEM FK UMS, Peduli Ibu dan Anak

Foto bersama BEM FK UMS bersama anak-anak TK Aisyiah
Program acara yang dicanangkan oleh ISMKI Nasional akhirnya dapat diselenggarakan dengan sukses oleh BEM FK UMS. Program Bulan Bakti yang bertemakan “Kesehatan Ibu dan Anak” ini diselenggarakan di TK Aisyiah di daerah Gonilan, Surakarta. Acara ini sudah dipersiapkan dengan matang oleh panitia dari jauh-jauh hari tepatnya dari mulai bulan Maret 2014 lalu. Awalnya panitia mencanangkan akan menyelenggarakan program ini di Posyandu terdekat pada tanggal 20 April 2014, namun terdapat kendala dimana Posyandu yang akan dijadikan tempat penyelenggaraan program Bulan Bakti ini tidak siap untuk menyelenggarakan program pada tanggal tersebut. Akhirnya panitia pun memutuskan untuk mencari alternative lain untuk tempat dan waktu, yang akhirnya ditentukan bahwa Bulan Bakti ini akan diselenggarakan di TK Aisyiyah pada tanggal 26 April 2014 dengan pertimbangan yang cukup matang
Gubernur BEM FK UMS, Bayu Hendro menyampaikan bahwa BEM FK UMS tepatnya divisi Pengabdian Masyarakat  adalah Fakultas Kedokteran ke-8 yang berhasil menyelenggarakan Program Bulan Bakti ini bersama dengan 6 Fakultas Kedokteran yang lainnya di hari yang sama. Gubernur BEM FK UMS 2014 juga menuturkan bahwa Ibu kepala sekolah TK AIsyiah sangat antusias dengan apa yang diselenggarakan oleh BEM FK UMS ini dan beliau menuturkan bahwa beliau akan menerima dengan tangan terbuka jika ada acara semacam ini lagi yang akan diadakan BEM FK UMS di TK Aisyiah.
Ketua panitia dari program Bulan Bakti ini, Oktaviana Halisanti menuturkan bahwa program Bulan Bakti ini berjalan sangat sukses. Hal ini dilihat berdasarkan antusiasme ibu dan anak yang sangat tinggi untuk berpartisipasi dalam acara yang diselenggarakan oleh BEM FK UMS. Adapun kegiatan yang tercakup dalam Bulan Bakti yang dilaksanakan ini antara lain lomba merwarnai bagi anak-anak, penyuluhan cuci tangan serta penyuluhan tentang kesehatan Ibu dan Anak yang diikuti oleh ibu-ibu dengan pemateri adalah salah satu dosen FK UMS yakni dr. Retno Sintowati, M.Sc. Santi, selaku ketua panitia mengharapkan semoga acara ini akan menjadi tonggak awal perjuangan yang akan dilaksanakan BEM FK UMS untuk program-program BEM FK UMS selanjutnya.
Kegiatan yang dilaksanakan dari pagi hari ini tentunya memberikan kesan yang luar biasa terhadap peserta Bulan Bakti di TK Aisyiah, baik dari anak-anak maupun ibu orang tua anak yang mengikuti penyuluhan. Selain memberikan kesan terhadap peserta ternyata kegiatan ini juga menjadikan motivasi khusus bagi anggota BEM FK UMS tentunya, yang kini diisi oleh anggota baru yang harapannya dapat memberikan inovasi dan kontribusi lebih kepada BEM FK UMS dan menyokong acara-acara dari ISMKI kedepannya.

Berita Oleh : Adhica Yudwari

Suasana penyuluhan Ibu dan Anak

Interaksi bersama anak-anak saat dikelas